HomeTeras PerjalananBlengep Cotot Indramayu, Makanan Khas dan Legendaris

Blengep Cotot Indramayu, Makanan Khas dan Legendaris

Indramayu – Sampai larut malam, Sunadi masih berjibaku dengan rebusan singkongnya. Kompor berbahan kayu bakar dengan tungku besar menyala garang didepannya. Semuanya dilakukan demi memenuhi kebutuhan pasar akan blengep cotot.

Blengep cotot merupakan kudapan legendaris khas Indramayu. Bahannya terbuat dari singkong yang direbus, lalu ditumbuk hingga bisa dibentuk menjadi bulatan-bulatan pipih berdiameter sekitar 8cm yang didalamnya diisi gula. Setiap bulatan diolesi dengan minyak goreng agar tidak menempel satu sama lain.

Kudapan ini selalu ditemukan di pasar tradisional di Indramayu. Namun yang paling legendaris dan kerap disebut-sebut identik dengan blengep cotot adalah Pasar Bangkir, Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, Indramayu.

Sunadi adalah salah satu pembuat blengep cotot di Blok Bojong, Desa Lohbener, Kecamatan Lohbener. Ia mewarisi keahlian membuat blengep dari orangtuanya. Dalam rangka memperluas pasar, orangtua Sunadi memintanya untuk membuat usaha yang sama.

“Ya, kebutuhan pasar yang perlu dipenuhi. Kadang-kadang bahkan dibeli tetangga sekitar, sehingga kami harus memproduksi lebih banyak,” ungkap Sunadi saat disambangi di rumahnya pada Minggu (1/11/2020).

Sunadi juga menuturkan keprihatinannya kalau blengep cotot ini mulai sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional. Orang-orang banyak yang mencari sampai jenuh, namun mereka tak menemukannya.

Blengep Cotot Tidak Bertahan Lama

Pedagang jajanan di pasar-pasar tersebut lebih memilih menjual kue-kue modern yang dianggap lebih awet dibandingkan blengep cotot. Sebab daya tahan blengep cotot ini memang sangat pendek.

“Mungkin karena terbuat dari singkong sehingga ia tidak bertahan lama. Ya, sebetulnya makanan tradisional yang betul-betul tradisional tidak ada yang bertahan lama. Ketika dibeli pagi, maka siang harus segera dimakan, sebab sorenya bisa basi,” terang Sunadi.

Inilah yang menjadi alasan mengapa blengep cotot tidak bisa menjadi oleh-oleh khas Indramayu. Sebab sampai saat ini belum ada penerapan teknologi yang membuat kudapan dengan rasa manis dan gurih ini bisa bertahan lama.

“Kami memang membutuhkan campur tangan pemerintah agar bisa ada teknologi tepat guna untuk membuat awet blengep cotot,” pungkas Sunadi.

Ashabul Kahfi
Penulis di Teras Digital Media Nusantara. Pembaca dari semua buku, santri semua kiai, dan murid dari semua guru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkini

Recent Comments