HomeTeras DaerahAgen e-Warong BNI'46 Keluhkan Banyak Agen Abal-Abal

Agen e-Warong BNI’46 Keluhkan Banyak Agen Abal-Abal

Indramayu, Teraspendopo.com Penyaluran bantuan sosial di beberapa tempat ternyata dilakukan oleh pihak yang tidak resmi. Hal ini memantik kegelisahan di kalangan Agen e-Warong BNI’46 yang merupakan agen penyalur resmi bantuan sosial di Kabupaten Indramayu.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan rutin yang digelar Forum Agen BNI’46 yang kali ini bertempat di RM Sekar Wangi, Widasari, Indramayu, pada Kamis (14/1/2021) sore. Pada kesempatan tersebut, turut hadir pula Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Indramayu, Boy Billy Prima.

Boy memaparkan Kabupaten Indramayu berada di peringkat yang baik dalam realisasi Bantuan Sosial Sembako atau yang dulu disebut Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), yakni sebanyak 78,72% dari 208.763 KPM. Namun dirinya berharap, realisasi itu bisa ditingkatkan dengan adanya sinergitas antara agen penyalur dan dinas.

Sayangnya beberapa agen e-Warong mempersoalkan lemahnya komitmen Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK) terkait pengumpulan laporan penyaluran atau form kontrol. Salah satu agen yang menyampaikan hal tersebut adalah agen dari Kecamatan Bangodua, Melawati.

“Akibat lemahnya pengumpulan laporan itulah banyak pihak yang memanfaatkannya dengan menyalurkan bantuan sosial secara ilegal,” ungkap Melawati.

Selain adanya agen abal-abal yang disebut Melawati, persoalan pemilihan penyedia beras yang dipakai sebagai bantuan sosial juga dibahas dalam pertemuan tersebut. Pasalnya, menurut Uun, salah satu agen e-Warong, para agen tidak diberi kebebasan untuk memilih penyedia beras.

“Agen tidak diberi kebebasan dalam memilih penyedia beras. Kami ditekan untuk membeli beras dari suplier tertentu saja. Padahal berasnya sama, tapi harganya lebih mahal dari yang biasa kami beli,” ungkap Uun.

Menjawab kedua pertanyaan tersebut, Boy sedang berupaya menciptakan terobosan agar pengawasan dalam penyaluran bisa lebih baik. Sehingga, menurutnya ketika ada penyimpangan bisa segera diketahui dan dievaluasi.

“Salah satunya dengan memberikan nota belanja dengan stempel basah kepada KPM yang bertransaksi,” terang Boy.

Terkait penekanan terhadap pemilihan penyalur, Boy berkilah bahwa sepertinya itu hanyalah pengarahan semata. Sebab menurutnya, pengarahan itu semata-mata agar para agen mengambil beras ke tempat yang izin edar dan merek dagangnya jelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkini

Recent Comments